Anungsaptonugroho's Blog

Just another WordPress.com weblog

Februari 3, 2010

Filed under: ayam broiler,jurnal,kumis kucing,peternakan,sejarah ayam,tanin — anungsaptonugroho @ 3:46 pm

BAB I

PENDAHULUAN

Ayam broiler merupakan salah satu sektor  peternakan yang menghasilkan bahan pakan hewani yang mempunyai nilai gizi yang tinggi. Perkembangan genetik ayam broiler semakin pesat, sehingga ayam broiler tidak lagi dipotong pada umur 35 hari tetapi menjadi lebih cepat yaitu 29 hari. Pertumbuhan yang cepat tersebut diikuti oleh menurunnya daya tahan tubuh ayam broiler. Diperlukan feed additive kedalam ransum untuk meningkatkan pertumbuhan dan daya tahan tubuh ayam broiler (Keirs et al. 2002). Namun di sisi lain penggunaan feed additive sangat membahayakan konsumen karena meninggalkan residu. Di lain sisi bahwa masyarakat dalam mengkonsumsi daging ayam broiler sangat memperhatikan kaulitas produk karkas yang dihasilkan. Diperlukan kualitas karkas ayam broiler yang bebas dari residu dan aman untuk dikonsumsi, untuk itu di perlukan penambahan feed aditif dalam ransum.

Feed additive dalam ransum di tujukan untuk memperbaiki konsumsi, daya cerna serta daya tahan tubuh serta mengurangi tingkat stres pada ayam broiler. Feed additive yang ditambahkan pada umumnya menggunakan antibiotik. Penggunaan antibiotik sebagai feed additive menghasilkan residu dalam karkas ayam broiler. Apabila daging ayam dikonsumsi dikawatirkan akan menjadi resistensi terhadap antibiotik. Maka diperlukan feed additive yang bukan antibiotik. Feed additive pengganti antibiotik dapat diperoleh dari tanaman obat yang banyak terbukti dapat meningkatkan konsumsi dan nafsu makan ayam broiler. Salah satu tanaman obat tradisional yang dapat digunakan sebagai pengganti antibiotik adalah tumbuhan kumis kucing.

Kumis kucing merupakan salah satu jenis tanaman obat yang sering digunakan untuk pengobatan tradisional. Baik secara empiris maupun klinis, kumis kucing bisa digunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit, diantaranya batu ginjal, batu kandung kemih, hipertensi, diabetes militus, reumatik, dan asam urat (Nachnuddin, 2008). Penambahan tepung daun kumis kucing diharapkan mampu memperlancar proses metabolis dalam tubuh sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan daya tahan tubuh ayam broiler. Seiring meningkatnya daya tahan tubuh akan diikuti dengan meningkatnya bobot badan, bobot karkas, bobot non karkas ayam broiler.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari pemberian tepung daun kumis kucing dalam ransum terhadap bobot badan akhir, bobot karkas, bobot non karkas ayam broiler jantan. Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan informasi tentang pengaruh penambahan tepung daun kumis kucing dalam ransum terhadap bobot badan akhir, bobot karkas, bobot non karkas ayam broiler jantan. Hipotesis penelitian pengaruh penggunaan tepung daun kumis kucing dalam ransum terhadap bobot badan akhir, bobot karkas, bobot non karkas ayam broiler jantan yaitu penggunaan tepung daun kumis kucing (Orthosiphon stamineus) dalam ransum sebagai feed additive dapat meningkatkan daya tahan tubuh ayam broiler sehingga proses penyerapan protein ransum terjadi dengan sempurna dan diperoleh bobot badan serta bobot karkas yang optimal.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Ayam Broiler

Budidaya ternak unggas tercatat sejak tahun 100 SM di India dari 14.000 spesies unggul yang ada, semuanya digolongkan ke dalam 25 Ordo. Unggas didomestikasi dan diklasifikasikan menjadi 4 ordo yaitu; Corinifes (Vertebrata bertulang belakang), Anser Formes (Itik dan Angsa), Galliformes (ayam kalkun, ayam mutiara dan burung kuau), Columbuformes (burung tekukur dan merpati). Ordo Galliformes paling besar perannya dalam perekonomian dan spesiesnya dibagi menjadi 3 famili yaitu; Phasianidae (ayam), Muminiodar (kalkun, ayam mutiara asal Afrika) dan Mellagride (kalkun Amerika). Ayam broiler merupakan jenis ayam ras unggul hasil persilangan antara ayam Cornish dengan Plymouth Rock.

Atmomarsono (2004) menjelaskan bahwa ayam broiler terdiri dari sekelompok ayam hasil perkawinan antar jenis berbeda dari persilangan bertingkat (sampai 40 tingkat) dengan tujuan memperoleh produk daging dengan waktu singkat dan kondisi lain yang mendukung. Menurut Suprijatna et al. (2005) Ayam broiler adalah ayam yang mempunyai sifat tenang, bentuk tubuh besar, pertumbuhan cepat, bulu merapat ke tubuh, kulit putih dan produksi telur rendah. Ayam Broiler merupakan ayam muda umur 7 sampai 10 minggu baik jantan maupun betina, berdaging lembut, kulit halus dan tulang dada lunak (Ensminger, 1980). Ayam Broiler merupakan ayam penghasil daging yang memiliki kecepatan tumbuh pesat dalam kurun waktu singkat (Rasyaf, 1994). Dijelaskan lebih lanjut oleh Siregar et al. (1980) bahwa ayam Broiler dalam klasifikasi ekonomi memiliki sifat-sifat antara lain : ukuran badan besar, penuh daging yang berlemak, temperamen tenang, pertumbuhan badan cepat serta efisiensi penggunaan ransum tinggi.

Sudaryani dan Santosa (1996) menyatakan ayam broiler mampu memproduksi daging secara optimal dengan hanya mengkonsumsi pakan dalam jumlah relatif sedikit. Ciri-ciri ayam broiler antara lain; ukuran badan relatif besar, padat, kompak, berdaging penuh, produksi telur rendah, bergerak lamban dan tenang serta lambat dewasa kelamin (Sudaryani, 2002). Menurut Siregar et al. (1982) ayam broiler mampu mencapai bobot hidup 1,5–2 kg/ekor dalam kurun waktu 6–7 minggu. Ayam broiler merupakan hasil rekayasa genetika dari galur murni yang dapat dipanen lebih cepat dengan bobot badan 1-1,5 kg/ ekor (Charoen Pokphand, 2005). Menurut Amrullah (2006), ayam pedaging mampu menghasilkan bobot badan 1,5-1,9 kg/ ekor pada usia 5-6 minggu. Dijelaskan lebih lanjut bahwa ayam broiler pada minggu ke 4 bobot badan 1,480 kg/ ekor dengan konversi pakannya adalah 1,431 (Nuryanto, 2007).

Pemilihan strain ayam broiler pada saat ini sudah banyak dan mudah ditemukan dipasaran (Prambudi, 2009). Jenis strain ayam broiler yang dapat diperoleh antara lain Lohman 202, Brahma, Pilch, Yabro, Tegel 70, ISA, Kim cross, Hyline, Vdett, Hybro, Missouri, Hubbard, Shaver Starbro, Hypeco-Broiler, Goto, Arbor arcres, Tatum, Indian river, Cornish, Langshans, Super 77, Ross, Marshall”m”, Euribrid, A.A 70, H&N, Sussex, Bromo, CP 707 (Setiawan, 2009). Dijelaskan lebih lanjut bahwa beragamnya jenis strain ayam broiler yang beredar sekarang ini pada dasarnya tidak jauh berbeda antara satu dengan yang lain dilihat dari segi produktifitasnya.

2.2. Pertumbuhan

Pertumbuhan dapat didefinisikan sebagai pertambahan jumlah ataupun ukuran sel, bentuk dan berat jaringan-jaringan tubuh seperti tulang, urat daging, jantung, otak serta semua jaringan tubuh lainnya kecuali jaringan lemak dan pertumbuhan terjadi dengan cara yang teratur (Anggorodi, 1985). Pertumbuhan adalah perubahan bobot badan, organ-organ dalam tubuh, tulang dan bertambahnya urat daging serta terjadi perubahan bentuk dan ukuran-ukuran tubuh ternak (Ensminger, 1980). Pertumbuhan terjadi pada bentuk yang paling kecil yaitu jaringan sel dimana sel akan membelah dari 1 sel menjadi 2 kemudian dari dua menjadi 4 dan seterusnya namun dalam proses pembelahan tidak terjadi secara kontinu dan menentu (Kartasujana dan Suprijatna, 2005). Ayam broiler dalam pembentukan jaringan tubuh membutuhkan nutrisi dan zat makanan untuk dapat tumbuh dengan baik. Zhang (1999) menyatakan bahwa ayam broiler akan memperlihatkan pertumbuhan yang baik dengan ransum yang memiliki kandungan energi dan protein yang tinggi. Standar bobot badan ayam broiler dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Standar Bobot Badan Ayam Broiler Berdasarkan Jenis Kelamin pada Umur 1 sampai 6 Minggu ((NRC, 1994)

Umur (minggu) Jenis Kelamin
Jantan (g) Betina (g)
1 152 144
2 376 344
3 686 617
4 1085 965
5 1576 1344
6 2088 1741

Anggorodi (1985) menjelaskan bahwa pertumbuhan berlangsung mulai perlahan-lahan kemudian cepat dan pada tahap terakhir perlahan-lahan kembali yang kemudian berhenti sama sekali. Dijelaskan lebih lanjut mengenai Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ayam broiler antara lain Faktor nutrisional yang meliputi energi, protein, vitamin, mineral dan kalsium. Faktor manajerial meliputi genetik, jenis kelamin, umur, penyakit, manajemen pemeliharaan (Wahju 1997). Pertumbuhan ayam broiler dipengaruhi oleh faktor genetik, dimana masing-masing ternak mempunyai kemampuan tumbuh yang berbeda-beda (Suprijatna et al. 2005). Menurut Tillman et al. (1991) Pertumbuhan dapat dilihat pada kenaikan bobot badan yang diperoleh dengan cara menimbang ayam broiler secara harian, mingguan ataupun menurut periode waktu tertentu. Menurut Scott et al. (1982) ayam broiler tumbuh relatif cepat pada hari pertama sampai 6 minggu. Pola pertumbuhan unggas dimulai secara perlahan lalu berlangsung lebih cepat dan akhirnya menurun kecepatannya atau berhenti sama sekali (Anggorodi, 1994).

Tabel 2. Hubungan antara Konsumsi Ransum dengan Bobot Badan Akhir Ayam Broiler per Ekor (Charoen Pokphand, 2006)

Minggu ke Total Konsumsi Ransum (g) Bobot Badan Akhir (g)
1 146 159
2 514 419
3 1124 803
4 1923 1265
5 2912 1756
6 4036 2255

Periode pertumbuhan ayam broiler dibagi menjadi 2 yaitu; periode starter dan periode finisher.  Periode starter pada ayam broiler dimulai sejak umur 1 hari sampai umur 21 hari dan periode finisher dimulai sejak umur 21 hari sampai panen (Rasyaf, 1996). Ayam broiler mengalami pertumbuhan yang berlangsung cepat pada periode starter yang kemudian pertumbuhan akan berlangsung melambat dan terjadi karena penimbunan lemak tubuh. (Wahju, 1997).

Fase Retardasi (finisher)

Bobot                         Titik belok (Titik Infleksi)

Fase Akselerasi (starter)

Umur

Ilustrasi 1. Kurva Pertumbuhan Sigmoidal (Soeparno, 1992)

2.3. Daun Kumis Kucing

Tanaman Kumis kucing berasal dari Afrika tropis, kemudian menyebar ke Asia dan Australia. Tumbuhan kumis kucing merupakan salah satu jenis tanaman herbal yang digunakan sebagai obat tradisional dalam menyembuhkan berbagai macam jenis penyakit (www.infoherbal.com, 2009). Tanaman ini dikenal dengan berbagai istilah seperti: kidney tea plants/java tea (Inggris), giri-giri marah (Sumatera), remujung (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan songot koneng (Madura) (Harmanto, 2007).

Ilustrasi 2. : Gambar Tumbuhan Kumis Kucing.

Kumis Kucing (Orthosiphon Spicatus) tumbuh liar di sepanjang anak sungai, selokan atau ditanam di pekarangan (Bizjournals.com, 2007). Tanaman Kumis kucing tumbuh optimum pada ketinggian 500-1.200 m dpl, termasuk tumbuhan berbatang basah, mampu tumbuh pada derah kering maupun basah. Tinggi tanamanan mencapa 2 meter, bentuk daun bundar telur lonjong, lanset, lancip atau tumpul pada bagian ujung, panjang daun antara 1-10 cm dan lebar 7,5 mm- 1,5 cm, batang segi empat beralur, pada bagian buku-buku berakar, Berdasarkan susunan tulang daunnya, kumis kucing merupakan daun-daun yang bertulang menjari (palminervis), yaitu kalau dari ujung tangkai daun keluar beberapa tulang yang memencar, memperlihatkan susunan seperti jari-jari pada tangan. Jumlah tulang ini lazimnya gasal, yang di tengah yang paling besar dan paling panjang, sedang kesamping semakin pendek (Alfiannor, 2009). Pinggir daun berbulu tipis, permukaan daun berbintik-bintik, kelopak bunga berkelenjar, mahkota bunga berwarna unggu atau putih, bunga seperti kumis kucing, panjang tangkai antara 17-29 cm.

Rahmat (2000) menjelaskan tumbuhan kumis kucing dapat tumbuh dengan baik dengan penyinaran matahari secara langsung. Pemberian atap akan menurunkan kadar ekstrak daun. waktu tanam terbaik adalah diawal musim hujan kecuali jika air tersedia sepanjang tahun, waktu tanam bisa dilaksanakan kapan saja. Curah hujan yang ideal untuk tumbuh adalah 3.000 mm/tahun. Tanaman ini dapat dengan mudah tumbuh di lahan-lahan pertanian. Ketinggian tempat optimum tanaman kumis kucing 500-1.200m dpl. Cara yang paling mudah dan biasa untuk mengembangkan kumis kucing adalah perbanyakan vegetatif dengan stek batang/cabang yang diambil dari rumpun yang tumbuhnya normal, subur dan sehat (Amirullah, 2007).

Tumbuhan kumis kucing mengandung senyawa kimia seperti kalium, glukosida, minyak astiri, sapotonin, ortosifonida, flafon, sinansetin, cupatorin, scutellarein, tetra-metil eter, salvigenin, rhamnazin (www.infoherbal.com, 2009). Kandungan kalium dalam tumbuhan kumis kucing sebesar 0,6-3,5% (Departemen Pertanian, 1974). Menurut De Padua (1999) bahwa daun kumis kucing mengandung lebih dari 12% mineral dan kalium 6,3-7,4 mg/g dari daun segar. Dijelaskan lebih lanjut tumbuhan kumis kucing juga memiliki 0,7% kadar minyak esensial. Kadar saponin sebesar 0,12%, kandungan minyak atsiri 0,2-0,65% dan Kadar sinansetin sebanyak 0,365% (Anggraeni dan Triantoro, 1992).

Senyawa kalium dan ortosifonida berfungsi sebagai anti inflamasi dan diuretik. Menurut PT. Pharos yang bekerjasama dengan Yayasan Jantung Nasional Harapan Kita yang dikutip oleh Koran Sinar Harapan (2009) bahwa kumis kucing terbukti mempunyai efek Bheta Blocker dalam membantu pembuangan racun di dalam tubuh tanpa gejala dehidrasi dan memperlancar fungsi ginjal.

Senyawa flavonoida bersifat anti oksidan yang dapat menghambat kerja enzim Ksatin oksidase dan reaksi superoksida, sehingga pembentukan asam urat menjadi terhambat dan berkurang (Cos et al. 1998). Menurut Rukmana (1995). ekstra orthosiponin berfungsi untuk meningkatkan ekskresi ion K+, Na+, Cl-. Kandungan ortosifonin dan garam kalium (terutama pada daunnya), merupakan komponen utama yang membantu larutnya asam urat, fosfat, dan oksalat dalam tubuh manusia, terutama daIam kandung kemih, empedu, maupun ginjal sehingga dapat mencegah terjadinya endapan batu ginjal (Asmanizar, 2003).

Minyak astiri berfungsi sebagai pelindung hati dari bahan-bahan toksin yang dapat menimbulkan kerusakan pada hati (Chirul, 2007). Kandungan Saponin dan Sinensetin yang terkandung dalam tepung daun kumis kucing berfungsi sebagai anti bakteri yaitu menghambat aktivitas bakteri jahat dalam tubuh (Abadi, 2002).

Tumbuhan kumis kucing merupakan tanaman yang dapat digunakan sebagai pengganti feed additive yang mengandung antibiotik. Kumis kucing sebagai feed additive berfungsi untuk meningkatkan daya cerna dan daya tahan tubuh ayam broiler yang diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi karkas ayam broiler.

2.4.Pakan Ayam Broiler

Suprijatna et al. (2005) pakan adalah campuran dari berbagai macam bahan organik maupun anorganik untuk ternak yang berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan zat-zat makanan dalam proses pertumbuhan. Ransum adalah campuran beberapa bahan pakan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang diberikan terhadap ternak selama 24 jam dengan sistem pemberian beberapa kali (Tillman et al. 1991). Ransum dapat diartikan sebagai pakan tunggal atau campuran dari berbagai bahan pakan yang diberikan pada ternak untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi ternak selama 24 jam baik diberikan sekaligus maupun sebagian (Lubis, 1992). Rasyaf (1994) menyatakan ransum adalah kumpulan dari beberapa baan pakan ternak yang telah disusun dan diatur sedemikian rupa untuk 24 jam.

Ransum memiliki peran penting dalam kaitannya dengan aspek ekonomi yaitu sebesar 65-70% dari total biaya produksi yang dikeluarkan (Fadilah, 2004). Pemberian ransum bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan, pemeliharaan panas tubuh dan produksi (Suprijatna et al. 2005). Ditambahkan oleh (Sudaryani dan Santosa, 1996) bahwa Pemberian ransum juga berfungsi untuk membentuk sel-sel dan jaringan tubuh, mengganti sel-sel yang rusak dan selanjutnya untuk keperluan produksi. Tobing (2002) pakan yang baik harus memperhatikan imbangan nilai gizinya seperti kadar protein, energi, vitamin dan mineral.

Ransum ayam broiler terbagi menjadi dua jenis yaitu ransum untuk periode starter dan ransum untuk periode finisher (Murtidjo, 1991). Menurut Wahju (1997) bahwa kebutuhan ransum Ayam broiler pada periode starter untuk protein sebesar 21-24% sedangkan energi yang diperlukan sebanyak 2800-3300 kkal/kg. Kebutuhan akan energi ayam broiler periode starter 2800-3300 kkal dengan protein 21-24 %. Kebutuhan protein ransum periode finisher sebanyak 18,1-21,1% (Anggorodi, 1994). Zarate et al. (2003) menambahkan ayam broiler pada periode finisher membutuhkan energi metabolis sebanyak 3200 kkal/kg. Kebutuhan nutrisi pakan ayam broiler dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Kebutuhan Nutrisi Pakan Ayam Broiler pada Periode Starter dan Periode Finisher (NRC, 1994)

Nutrisi Periode ”Starter” Periode ”Finisher”
Protein (%) 23,00% 20,00%
Energi Metabolis (kkal/ kg) 2800-3200 2900-3200
Kalsium (%) 1,00 0,90
Fosfor (%) 0,45 0,35

Konsumsi pakan adalah kemampuan ternak dalam mengkonsumsi sejumlah ransum yang digunakan dalam proses metabolisme tubuh (Anggorodi, 1985). Tillman et al. (1991) menjelaskan konsumsi ransum adalah jumlah ransum yang dihabiskan selama 24 jam yang digunakan untuk proses pertumbuhan, aktivitas dan mempertahankan suhu tubuh.

Blakely dan Blade (1998) menjelaskan bahwa tingkat konsumsi ransum akan mempengaruhi laju pertumbuhan dan bobot akhir karena pembentukan bobot, bentuk dan komposisi tubuh pada hakekatnya adalah akumulasi pakan yang dikonsumsi ke dalam tubuh ternak. Kebutuhan ransum ayam broiler tergantung pada strain, aktivitas, umur, besar ayam dan temperatur Ichwan (2003). Faktor yang mempengaruhi konsumsi pakan antara lain umur, nutrisi ransum, kesehatan, bobot badan suhu dan kelembaban serta kecepatan pertumbuhan (Wahju, 1997).

2.5. Bobot Karkas Ayam Broiler

Karkas merupakan hasil utama pemotongan ternak yang memiliki nilai ekonomis tinggi (Soeparno, 1992). Karkas broiler adalah daging bersama tulang hasil pemotongan, setelah dipisahkan dari kepala sampai batas pangkal leher dan dari kaki sampai batas lutut serta dari isi rongga perut ayam. Karkas diperoleh dengan memotong ayam broiler kemudian menimbang bagian daging, tulang, jantung dan ginjal (Kamran, 2008). Karkas adalah bagian tubuh ayam tanpa bulu, leher, kaki bagian bawah (cakar) dan viscera (Ensminger, 1980). Dewan Standardisasi Nasional (DSN, 1995) menjelaskan karkas ayam pedaging adalah bagian tubuh ayam broiler hidup setelah dikurangi  bulu, dikeluarkan jeroan dan lemak abdominalnya, dipotong kepala dan leher serta kedua kakinya (ceker). Menurut Yao et al. (2006) karkas ayam broiler adalah bagian tubuh ayam yang disembelih lalu dibuang darah, kaki bagian bawah mulai tarsus metatarsus ke bawah, kepala, leher, serta dicabut bulu dan organ dalam kecuali paru-paru, jantung dan ginjal. Karkas dihitung setelah dikeluarkan isi perut, kaki, leher, kepala, bulu, darah dan kualitas karkas juga ditentukan pada saat pemotongan (Zuidhof, 2004).

Pertumbuhan komponen karkas diawali dengan pertumbuhan tulang, lalu pertumbuhan otot yang akan menurun setelah mencapai pubertas selanjutnya diikuti pertumbuhan lemak yang meningkat (Soeparno, 1994). Pembentukan tubuh yang terjadi akibat tingkat pertumbuhan jaringan, kemudian akan membentuk karkas yang terdiri dari 3 jaringan utama yang tumbuh secara teratur dan serasi: Jaringan tulang yang akan membentuk kerangka, selanjutnya pertumbuhan otot atau urat yang akan membentuk daging, yang menyelubungi seluruh kerangka, kemudian sesuai dengan pertumbuhan jaringan tersebut, lemak (fat) tumbuh dan cenderung meningkat sejalan dengan meningkatnya bobot badan (Anggorodi, 1990). Ayam broiler yang mengkonsumsi protein dan energi metabolis yang sama akan menghasilkan bobot karkas yang tidak berbeda (Han and Baker, 1994). Haroen (2003) menjelaskan pencapaian bobot karkas sangat berkaitan dengan bobot potong dan pertambahan bobot badan.

Wilson (1977) menyatakan bahwa karkas yang baik memiliki banyak jaringan otot dan sedikit mungkin jaringan lemak. Soeparno (1992) menjelaskan faktor yang mempengaruhi bobot karkas ayam broiler adalah genetik, jenis kelamin, fisiologi, umur, berat tubuh dan nutrisi ransum. Menurut McNally and Spicknall (1949) yang dikutip oleh Young (2001) bahwa faktor yang mempengaruhi produksi karkas ayam broiler antara lain strain, jenis kelamin, usia, kesehatan, nutrisi, bobot badan, pemuasaan sebelum dipotong.

2.6.Bobot Non Karkas Ayam Broiler

Bobot non karkas adalah bagian tubuh ayam selain karkas yaitu darah kaki, kepala, bulu, dan vicera (Soeparno, 1992). Darah merupakan cairan tubuh yang beredar dalam sistem pembuluh darah (Harper, 1979). Darah terdiri atas substansi sel–sel darah dan komponen ekstra seluler yang disebut plasma (Harper, 1979). Fungsi darah dalam tubuh ternak sangatlah penting dalam mendukung proses metabolis. Zat nutrisi dari proses pencernaan diabsorbsi dari saluran pencernaan dan diangkut oleh darah dibawa dalam sirkulasi ke jaringan tubuh (Guyton, 1987). Darah berfungsi membawa oksigen dan zat makanan dari saluran pencernaan dan menyebarkannya ke dalam jaringan ke dalam tubuh (Suprijatna et al. 2005). Darah merupakan 8% dari bobot anak ayam yang baru menetas dan 7% dari bobot ayam dewasa.

Viscera adalah bagian organ dalam atau jeroan dari ternak ayam setelah dipisahkan dari tubuh dan sebelum dibersihkan giblet (hati, empedal, jantung), serta timbunan lemak pada empedal (Cole dan Ronning, 1974). Bobot viscera dipengaruhi oleh jumlah pakan, tekstur pakan, kandungan serat pakan, dan pakan tambahan berupa grit yang mempengaruhi besar empedal, sehingga bobot viscera pun meningkat. (Branion, 1963). Proporsi viscera pada ayam broiler yang dipanen pada umur 8 minggu adalah 14, 3%-15,9% (Cole dan Ronning, 1974).

Bulu berfungsi menjaga suhu tubuh, melindungi dari luka, sebagai reseptor terhadap rangsangan dari luar, dan juga sebagai hiasan. Bulu memiliki pertumbuhan kearah luar dari epidermis yang membentuk bulu penutup tubuh pada ternak ayam (Suprijatna et al. 2005). Bobot bulu mencapai 4-9% dari bobot tubuh, tergantung species, umur dan jenis kelamin.

2.7.Persentase Karkas Ayam Broiler

Ensminger (1980) menjelaskan bahwa presentase karkas yaitu jumlah perbandingan bobot karkas dan bobot badan akhir dikalikan 100%. Faktor-faktor yang mempengaruhi persentase karkas antara lain bobot badan akhir, kegemukan dan deposisi daging dan paha. Bertambahnya bobot hidup ayam pedaging akan mengakibatkan bobot karkas meningkat dan persentase karkas akan meningkat pula. Persentase karkas ditentukan oleh besarnya bagian tubuh yang terbuang seperti kepala, leher, kaki, jeroan, bulu, dan darah. (Jull, 1972). Dijelaskan lebih lanjut bahwa persentase bagian tubuh ayam pedaging adalah 65-75% karkas; 6,41% bulu; 9-10% viscera; 9-10% darah; 7,8% kepala dan leher serta 4,40% kaki.

Aviagen (2006) menyatakan bobot karkas ayam broiler berkisar antara 1750-1800 gram atau 71-73% dari bobot badan.  Moreng Avens (1985), persentase karkas ayam pedaging berkisar antara 60-70%. Widharti (1987) melaporkan persentase karkas ayam broiler umur 6 minggu adalah 58,825-63,895%. Persentase karkas ayam broiler berkisar antara 65%-75% berat hidup (Murtidjo, 1987). persentase ayam broiler siap potong menurut Bakrie et al. (2002), adalah 58,9%.

BAB III

MATERI DAN METODE

3.1.        Materi Penelitian

Penelitian mengenai Pengaruh Penggunaan Tepung Daun Kumis Kucing terhadap Bobot Badan Akhir, Bobot Karkas, Bobot Non Karkas dan Persentase Karkas Ayam Broiler Jantan dilaksanakan pada bulan Maret–April 2008 di Kandang Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang.

Materi yang digunakan yaitu 60 ekor ayam broiler jantan umur 15 hari dengan bobot badan 532+1,52 gram merk dagang CP 707 produksi PT. Charoen Pokphand Jaya Farm. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain 20 kotak kandang dengan ukuran 50 x 50 x 50 cm untuk masing-masing kandang yang terletak pada kandang utama. Setiap kotak kandang diisi 3 ekor ayam broiler dan pada lantai tiap kotak kandang digunakan litter berupa sekam dan dilengkapi tempat pakan, tempat minum, bak penampung, lampu penerangan, brooder, higrometer, thermometer, timbangan, peralatan sanitasi, sekop, sapu dan timbangan dengan ketelitian 2 gram dan kapasitas maksimal 5 kg serta pisau untuk memotong karkas.

Ransum ayam broiler tersusun atas bekatul, Meat Bone Meal (MBM), jagung kuning, Poultry Meat Meal (PMM), bungkil kedelai, topmix serta diberi tambahan tepung daun kumis kucing sebagai feed additive. Ransum terbagi menjadi 4 perlakuan, T0 ransum tanpa tepung daun kumis kucing, T1 ransum mengandung tepung daun kumis kucing 0,12%, T2 ransum mengandung tepung daun kumis kucing 0,14% dan T3 ransum mengandung tepung daun kumis kucing 0,16%. Susunan ransum dan kandungan nutrisi ayam broiler yang diberi tepung daun kumis kucing sebagai feed additive dapat dilihat pada Tabel 4. dibawah ini.

Tabel 4.  Susunan Ransum dan Kandungan Nutrisi Ayam Broiler dengan Penambahan Tepung Daun Kumis Kucing dalam Ransum pada Level yang Berbeda

Bahan Pakan Perlakuan
T0 T1 T2 T3
Jagung Kuning (%) 45,38 45,30 45,30 45,30
Bekatul (%) 29,26 29,23 29,23 29,22
Bungkil Kedelai (%) 12,98 12,97 12,97 12,96
PMM (%) 6,68 6,68 6,67 6,67
MBM (%) 5,60 5,60 5,59 5,59
Top Mix (%) 0,10 0,10 0,10 0,10
Tepung Daun Kumis Kucing (%) 0,00 0,12 0,14 0,16
Total 100,00 100,00 100,00 100,00
Kandungan Nutrisi
Protein (%) 19,41 19,39 19,38 19,38
EM (%) 3065,74 3061,94 3061,34 3060,76
SK (%) 3,06 3,06 3,06 3,06
Lemak (%) 6,77 6,76 6,76 6,76
Ca (%) 0,84 0,84 0,83 0,83
P (%) 0,81 0,81 0,81 0,81

3.2.        Metode Penelitian

3.2.1.     Rancangan percobaan

Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (completely randomized design) dengan perlakuan penggunaan tepung daun kumis kucing. Terdapat 4 perlakuan dan setiap perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 5 kali. Setiap unit percobaan terdiri dari 3 ekor ayam broiler sehingga total 60 ekor.

3.2.2.     Tahap persiapan

Tahap persiapan meliputi sanitasi kandang dan area sekitar kandang, pencucian kandang, penyemprotan formalin, pengecatan dengan kapur toghor, menyiapkan sekam dan menyemprotnya dengan formalin, pemasangan tirai, pembuatan petak kandang, tempat pakan dan tempat minum, pemasangan termometer dan higrometer. Mempersiapkan bahan dan penyusun ransum perlakuan seperti bekatul, MBM, PMM, bungkil kedelai, jagung kuning, topmix serta daun kumis kucing yang sudah digiling. Ransum ayam broiler periode starter menggunakan pakan jadi produksi PT. Charoen Pokphand Jaya Farm BR I dengan kandungan protein ransum sebesar 23% dengan energi metabolism sebesar 3300 kkal/kg. Kandungan dan susunan ransum periode finisher dapat dilihat pada Tabel 4.

3.2.3.     Tahap perlakuan

Tahap perlakuan dilaksanakan selama 15 hari di kandang Digesti Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang. Ayam yang digunakan sebanyak 60 ekor usia 14 hari yang ditempatkan dalam 4 flock. Tiap perlakuan terdiri dari 5 ulangan dan tiap unit percobaan menggunakan 3 ekor ayam broiler jantan. Pemberian pakan dicampur dengan tepung daun kumis kucing untuk T1 sebanyak 0,12%, T2 sebanyak 0,14%, T3 sebanyak 0,16% dan T0 tanpa tepung daun kumis kucing sebagai ransum kontrol. Pemberian pakan dan air minum selama pemeliharaan dilakukan ad libitum.

3.2.4.     Tahap pengambilan data

Tahap pengambilan data penelitian mengenai penggunaan tepung daun kumis kucing dalam ransum sebagai feed additive terhadap bobot badan akhir, bobot karkas, bobot non karkas dan persentase karkas pada ayam broiler antara lain jumlah konsumsi pakan, menimbang bobot akhir, bobot karkas dan bobot non karkas serta menghitung persentase karkas. Pengambilan data jumlah konsumsi pakan diperoleh dengan cara menimbang pakan yang diberikan dikurangi dengan sisa pakan tertinggal. Pengambilan data bobot badan akhir diperoleh dengan cara menimbang ayam pada saat menjelang ayam broiler dipotong. Data bobot karkas diperoleh dari mengurangi bobot akhir dengan darah, bulu, kepala, kaki dan vicera. Bobot non karkas diperoleh dengan menimbang darah, bulu, kaki, kepala dan vicera. Data diambil pada saat ayam broiler pada umur 15 sampai 29 hari.

3.2.5.     Perlakuan

Perlakuan penggunaan tepung daun kumis kucing dengan taraf yang berbeda yaitu :

T0 :      Ransum tanpa tepung daun kumis kucing (Ransum kontrol)

T1 :      Ransum dengan penggunaan tepung daun kumis kucing 0,12%

T2 :      Ransum dengan penggunaan tepung daun kumis kucing 0,14%

T3 :      Ransum dengan penggunaan tepung daun kumis kucing 0,16%

3.2.6.     Parameter penelitian

Parameter yang diamati untuk mengetahui sejauh mana pengaruh penambahan tepung daun kumis kucing terhadap bobot badan akhir, bobot karkas, bobot non karkas dan persentase karkas ayam broiler jantan adalah :

  1. Bobot badan akhir ayam broiler jantan diperoleh dengan cara menimbang ayam broiler sebelum dipotong.
  2. Bobot karkas diperoleh dengan menimbang bagian karkas (daging, tulang, lemak).
  3. Bobot non karkas diperoleh dengan menimbang bagian non karkas (Vicera, kaki, kepala, darah, bulu).
  4. Persentase karkas diperoleh dengan membagi bobot karkas dengan bobot badan akhir dikali 100%.

3.3.        Analisis data

Data yang diperoleh dianalisis dengan analisys of variance (ANOVA) dengan di uji F untuk mengetahui pengaruh perlakuan. Jika ada pengaruh perlakuan dilanjut dengan uji DUNCAN. Penelitian mengenai Pengaruh Penggunaan Tepung Daun Kumis Kucing terhadap Bobot Badan Akhir, Bobot Karkas dan Bobot Non Karkas Ayam Broiler Jantan dilakukan dalam 3 tahap yaitu tahap persiapan, tahap perlakuan dan tahap pengambilan data serta análisis data hasil penelitian.

3.3.1.     Model linier aditif yang digunakan

Model linier yang digunakan yaitu :

Yij       = m + t + e ij ……………………………………………………………    (1)

Keterangan :

Yij          = Nilai pengamatan pada ulangan ke-1-5, pengaruh perlakuan tepung daun kumis kucing.

Μ           = Nilai rata-rata umum pengaruh perlakuan tepung daun kumis kucing.

t             = Pengaruh faktor tepung daun kumis kucing.

Ε            = Pengaruh galat (experimental error).

3.3.2.     Hipotesis statistik

H0 = 0        : Tidak ada perbedaan pengaruh perlakuan pemberian daun kumis kucing terhadap bobot  badan akhir ,bobot karkas, bobot non karkas dan persentase karkas ayam broiler jantan.

H1 ≠ 0        : Paling tidak ada satu perbedaan pengaruh perlakuan pemberian daun kumis kucing terhadap bobot badan akhir, bobot karkas, bobot non karkas dan persentase karkas ayam broiler jantan.

3.3.3.     Kriteria pengujian

Data yang diperoleh dianalisa menggunakan analisis ragam. Adapun kriteria pengujian adalah sebagai berikut :

Jika F hit < F tabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak.

Jika F hit ≥ F tabel, maka H1 diterima dan H0 ditolak.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.        Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Ransum Ayam Broiler

Hasil penelitian mengenai penambahan tepung daun kumis kucing dalam ransum ayam broiler jantan terhadap rata-rata konsumsi ransum dapat dilihat pada tabel 5. dibawah ini. perhitungan statistik dari data bobot badan akhir di bawah ini dilampirkan pada Lampiran 1.

Tabel 5. Rata-rata Konsumsi Ransum Ayam Broiler yang Diberi Tepung Daun Kumis Kucing pada Level yang Berbeda

Ulangan Perlakuan (gram)
T0 T1 T2 T3
1 1065,0 1059,5 1113,5 1102,5
2 1080,5 1096,5 1108,5 1100,5
3 1084,0 1092,0 1101,5 1100,0
4 1085,5 1089,0 1113,5 1108,5
5 1085,0 1100,5 1123,0 1088,5
Rata-rata 1080,0b 1087,5b 1112,0a 1100,0a

Keterangan :      Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan angka yang berbeda nyata (P<0,05)

Hasil analisis ragam menunjukkan adanya perbedaan nyata pengaruh pemberian tepung daun kumis kucing (P<0,05) terhadap konsumsi ransum ayam broiler T2 1112,00 gram dan T3 1100,00 gram dengan T0 1080,00 gram dan T1 1087,50 gram.

Konsumsi ransum ayam broiler dalam penelitian ini lebih rendah dibanding dengan standar konsusmi pakan yang dikeluarkan oleh Charoen Phokphand (2006). Konsumsi ransum menurut Charoen Phokphand (2006) bahwa pada umur 29 hari ayam broiler mengkonsusmi ransum sebanyak 1519 gram. Sedangkan dalam penelitian ini konsumsi ransum jauh lebih rendah, hal ini dikarenakan rata-rata suhu lingkungan yang tinggi pada saat penelitian yaitu 26,24oC dengan kelembaban 89,23%. tingginya suhu lingkungan tersebut mengakibatkan ayam mengalami cekaman panas, sehingga konsumsi ransum menurun. Penurunan konsumsi ransum dilakukan untuk mengurangi beban panas akibat proses metabolis. Suhu ideal ayam broiler yaitu 18-22oC (Poultry Indonesia, 2007). Nagalakshmi (2002) menyatakan bahwa pada cuaca panas ayam broiler kurang efisien dalam mengkonsumsi ransum. Dirain dan Waldroup (2002) menjelaskan bahwa ayam broiler yang dipelihara pada suhu lingkungan tinggi, konsumsi pakan akan menurun. Tillman et al. (1991) menjelaskan konsumsi ransum digunakan untuk proses pertumbuhan, aktivitas dan mempertahankan suhu tubuh. Suhu yang tinggi menyebabkan ayam lebih banyak minum dari pada mengkonsusmi ransum untuk menjaga suhu tubuh. Faktor yang mempengaruhi konsumsi pakan antara lain umur, nutrisi ransum, kesehatan, bobot badan suhu dan kelembaban serta kecepatan pertumbuhan (Wahju, 1997).

Rochman (1992) menjelaskan pengaruh suhu pada unggas dapat berdampak antara lain: pada kondisi unggas, suhu yang meningkat menimbulkan perubahan nyata pada laju pernafasan, aliran darah meningkat kebagian atas dari saluran respirasi dan otot abdominal tetapi menurun ke organ hati, ginjal, dan saluran pencernaan. Selain itu pada suhu diatas 25oC, kebutuhan ayam terhadap energi meningkat karena terjadi peningkatan aktivitas tubuh, akan tetapi naiknya suhu akan menurunkan konsumsi ransum yang berakibat ayam broiler kekurangan energi dan pertumbuhan akan terhambat. Suhu yang tinggi akan mengurangi konsumsi ransum, menurunkan laju pertumbuhan, meningkatkan konversi ransum, menurunkan berat badan dan meningkatkan mortalitas.

Penambahan tepung daun kumis kucing berpengaruh terhadap meningkatnya konsumsi pakan, hal ini dikarenakan pada T2 dan T3 memiliki kandungan tepung daun kumis kucing yang semakin meningkat dibandingkan dengan T1. Penambahan tepung daun kumis kucing yang meningkat akan menambah kandungan senyawa yang ada didalamnya sehingga palatabilitas ternak juga meningkat, namun pada T1 belum mampu meningkatkan palatabilitas. Menurut Kompas (2002) daun Kumis kucing memiliki kandungan tannin. Peningkatan kandungan kumis kucing dalam ransum ini akan meningkatkan palatabilitas ransum dikarenakan meningkatnya kandungan tannin dalam ransum. Menurut Nyachoti et al. (1996) peningkatan kandungan tannin dapat meningkatkan konsumsi ransum. Hal ini serupa dengan yang dijelaskan oleh Zombade et al. (1979) dalam penelitiannya dengan menggunakan shorea robusta, bahwa pemberian tannin dalam pakan mampu meningkatkan konsumsi ransum.

Rofiq (2003) menyatakan faktor yang mempengaruhi nilai cerna bahan pakan adalah: tingginya kandungan serat kasar, lignin, selulosa serta adanya zat yang menghambat nutrien untuk diserap oleh usus halus (anti nutrisi). Dijelaskan lebih lanjut bahwa feed additive juga dapat merusak struktur vili usus jika penambahannya mengganggu keseimbangan asam basa usus halus sehingga menyebabkan kerusakan usus halus.Yuniarti (2008) menjelaskan sifat kimiawi dan efek farmakologis dari daun kumis kucing adalah manis, sedikit pahit, sejuk, anti inflammatori (anti radang) serta memiliki kandungan tannin, sehingga ternak lebih menyukainya.

4.2.        Pengaruh Perlakuan terhadap Bobot Badan Akhir Ayam Broiler

Rata-rata bobot badan akhir ayam broiler hasil analisis penelitian mengenai pengaruh penambahan tepung daun kumis kucing dalam ransum yang ditampilkan pada Tabel 6. Hasil analisis menunjukkan tidak adanya perbedaan yang nyata (P>0,05) antar perlakuan. Hasil perhitungan analisis ragam dapat dilihat pada Lampiran 2.

Tabel 6. Rata-rata Bobot Badan Akhir Ayam Broiler yang Diberi Tepung Daun Kumis Kucing pada Level yang Berbeda

Ulangan Perlakuan (gram)
T0 T1 T2 T3
1 1045,33 1052,00 1134,00 1083,33
2 1081,33 1082,67 1122,67 1112,00
3 1044,67 1076,00 1133,33 1025,33
4 1048,67 1090,67 1216,00 1234,00
5 1035,33 1016,00 1080,00 1070,67
Rata-rata 1051,07 1063,47 1137,20 1105,07

Keterangan : Nilai rata-rata tidak menunjukkan perbedaan nyata (P>0,05).

Rata-rata bobot badan yang dihasilkan dalam penelitian ini terhadap bobot badan akhir ayam broiler adalah 1089,20 gram. Menurut Charoen Pokphand (2006) bobot badan ayam broiler usia 29 hari adalah 1265 gram. Rendahnya bobot badan akhir ayam broiler dikarenakan rendahnya konsumsi ransum ayam broiler pada suhu lingkungan yang tinggi yaitu 26,34oC. Faktor yang mempengaruhi bobot badan akhir ayam broiler antara lain; genetik, jenis kelamin, protein ransum, suhu, manajemen perkandangan dan sanitasi (Anggorodi, 1985). Menurut Zhang (1994), ayam broiler memperlihatkan pertambahan bobot badan akhir yang baik dengan ransum yang memiliki kandungan protein dan energi metabolis yang baik pula. Meningkatknya protein dalam ransum akan meningkatkan pertambahan bobot badan akhir ayam broiler (Donaldson et al. 1956). Menurut Ndegwa et al. (2001), ayam yang mengkonsusmi protein dalam jumlah sama, tingkat pertumbuhannya juga sama.

Pengaruh perlakuan penambahan tepung daun kumis kucing tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap bobot badan akhir. Hal ini dikarenakan kandungan tannin yang terdapat dalam tepung daun kumis kucing. Semakin meningkatnya persentase kumis kucing dalam perlakuan selama penelitian meningkatkan kandungan tannin dalam ransum. Hal ini akan menimbulkan kerugian terhadap buruknya performans ayam broiler. Tannin merupakan zat anti nutrisi yang dapat mengendapkan protein dalam saluran pencernaan serta mengurangi jumlah fili usus sebagai alat pencernaan sehingga proses penyerapan hasil metabolism menjadi tidak optimal. Tannin merupakan salah satu kandungan daun kumis kucing yang bersifat antinutrisi. Pemberian tannin yang berlebih akan mengurangi kemampuan saluran pencernaan dalam menyerap protein. Menurut Vohm et al. (1966), tannin merupakan zat anti nutrisi yang dapat mengakibatkan penurunan terhadap utilisasi nitrogen dan mengakibatkan erosi terhadap mucosa usus halus. Lebih lanjut dijelaskan Nyachoti et al. (1996) bahwa penurunan nilai utilisasi nitrogen ini akan berakibat pada penurunan bobot badan ayam broiler.

4.3.        Pengaruh Perlakuan terhadap Bobot Karkas Ayam Broiler

Hasil penelitian mengenai bobot karkas ayam broiler menujukkan data sebagai berikut ; rata-rata bobot karkas T0 (ransum kontrol) 603,60 gram, T1 (ransum dengan penambahan tepung daun kumis kucing 0,12%) 599,00 gram, T2 (ransum dengan penambahan tepung daun kumis kucing 0,14%) 638,54 gram dan T3 (ransum dengan penambahan tepung daun kumis kucing 0,16%) 584,00 gram yang ditampilkan pada Tabel 7. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak adanya perbedaan yang nyata (P>0,05) antar perlakuan (Lampiran 3).

Tabel 7. Rata-rata Bobot Karkas Ayam Broiler yang Diberi Tepung Daun Kumis Kucing pada Level yang Berbeda

Ulangan Perlakuan (gram)
T0 T1 T2 T3
1 601,09 595,19 630,53 630,89
2 614,72 614,08 644,47 622,04
3 612,84 577,49 640,93 588,91
4 596,30 621,51 683,65 668,71
5 593,02 586,72 593,13 409,38
Rata-rata 603,60 599,00 638,54 584,00

Keterangan : Nilai rata-rata tidak menunjukkan perbedaan nyata (P>0,05).

Rata-rata bobot karkas ayam broiler dalam penelitian mengenai penggunaan tepung daun kumis kucing dalam ransum sebagai feed additive menunjukkan angka yang tidak berbeda nyata (P>0,05). Tabel 3. Menunjukkan bobot karkas ayam broiler yaitu T0 sebesar 603,60 gram, T1 sebesar 599,00 gram, T2 sebesar 638,54 gram dan T3 sebesar 584,00 gram, dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa bobot karkas yang dihasilkan dalam penelitian ini jauh lebih rendah dari standar yang ada. Menurut Nahashon et al. (2005) ayam  broiler umur 4 minggu yang memiliki bobot karkas 912,70 gram. Setiawan (2009) menyatakan rata-rata bobot karkas ayam broiler umur 29 hari yang diberi tepung daun sambiloto sebesar 735.32 gram. Dijelaskan oleh Smith and Pesti (1998) bobot karkas ayam broiler mencapai 806,90 gram. Rendahnya bobot karkas ayam broiler dikarenakan bobot badan yang dihasilkan juga rendah. Disamping itu sebelum dilakukan pemotongan ayam broiler terlebih dahulu dipuasakan selama 6 jam, hal ini menyebabkan menurunnya bobot badan ayam broiler yang diikuti dengan menurunnya bobot karkas ayam broiler. Pemuasaan menyebabkan ayam broiler membongkar lemak tubuh sebagai cadangan makanan, sehingga ketika lemak tubuh terdeposisi menyebabkan ayam broiler mengalami penurunan berat badan. Hal ini sesuai dengan pendapat McNally and Spicknall (1949) yang dikutip oleh  Young (2001) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi produksi karkas ayam broiler antara lain bobot badan, strain, jenis kelamin, usia, kesehatan, nutrisi, pemuasaan sebelum dipotong. Anggorodi (1985) berpendapat sama bahwa Lemak dalam tubuh ternak berfungsi sebagai cadangan energi untuk menjadi status keseimbangan kalori pada saat ayam broiler tidak mendapatkan asupan nutrisi.

Bobot karkas yang tidak berbeda nyata secara tidak langsung dipengaruhi oleh bobot badan yang tidak berbeda nyata pula. Hasil analisis ragam mengenai penggunaan tepung daun kumis kucing dalam ransum tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap bobot karkas ayam broiler. Hal ini dikarenakan bobot badan pada perlakuan juga tidak berbeda nyata. Peningkatan persentase penambahan tepung daun kumis kucing akan mengakibatkan peningkatan kandungan senyawa yang terkandung dalam daun kumis kucing seperti tannin yang merupakan zat anti nutrisi sampai taraf 0,16%. Peningkatan kandungan tannin dapat menurunkan nilai utilisasi nitrogen. Semakin menurunnya nilai utilisasi nitrogen maka bobot badan yang dihasilkan semakin rendah dan bobot karkas yang dihasilkan juga rendah. Ayam broiler masing-masing perlakuan memiliki performans yang sama.

Kandungan saponin dan sinensetin yang terkandung dalam tepung daun kumis kucing berfungsi sebagai anti bakteri yaitu menghambat aktivitas bakteri jahat dalam tubuh belum bekerja secara optimal, hal ini karena kandungan tannin dalam kumis kucing lebih tinggi menyebabkan terjadinya pengendapan protein sehingga penyerapan protein tidak optimal dan karkas yang terbetuk juga tidak maksimal. Menurut Nyachoti et al. (1996) bahwa pemberian tannin yang berlebih akan menyebabkan protein ransum terendapkan dan tidak terserap oleh tubuh. Faktor yang mempengaruhi produksi karkas antara lain laju pertumbuhan, bobot potong, suhu dan status nutrisi.

4.4.        Pengaruh Perlakuan terhadap Bobot Non Karkas Ayam Broiler

Bobot non karkas yang diperoleh dari hasil penelitian menunjukkan data sebagai berikut ; Rata-rata bobot non karkas T0 (ransum tanpa tepung daun kumis kucing) 447,47 gram, T1 (ransum dengan penambahan tepung daun kumis kucing 0,12%) 464,47 gram, T2 (ransum dengan penambahan tepung daun kumis kucing 0,14%) 498,66 gram dan T3 (ransum dengan penambahan tepung daun kumis kucing 0,16%) 521,06 gram yang ditampilkan pada Tabel 8. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak adanya perbedaan yang nyata (P>0,05) antar perlakuan (Lampiran 4).

Tabel 8.  Rata-Rata Bobot Non Karkas Ayam Broiler yang Diberi Tepung Daun Kumis Kucing dalam Ransum pada Level yang Berbeda

Ulangan Perlakuan (gram)
T0 T1 T2 T3
1 444,25 456,81 503,47 452,35
2 466,61 468,59 478,19 489,96
3 431,82 498,51 492,40 436,42
4 452,36 469,15 532,35 565,29
5 442,31 429,28 486,87 661,29
Rata-rata 447,47 464,47 496,66 521,06

Keterangan : Nilai rata-rata tidak menunjukkan perbedaan nyata (P>0,05).

Analisis statistik mengenai bobot non karkas menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05). Rata-rata bobot non karkas yang dihasilkan dalam penelitian ini untuk T0 447,47 gram, T1 464,47 gram, T2 498,66 gram dan T3 521,06 gram. Menurut Khoiruddin (2009) bobot non karkas ayam broiler berkisar 465,26-473,34 gram. Menurut Alfi (2009) bobot non karkas ayam broiler pada umur 35 hari berkisar antara 417,00-483,75 gram, hal ini berarti pada umur 29 hari ayam broiler yang diberi tepung daun kumis kucing memiliki bobot non karkas yang sama dengan ayam broiler yang tidak diberi tepung daun kumis kucing pada umur 35 hari. Besarnya bobot non karkas ayam broiler dipengaruhi oleh kandungan minyak atsiri dalam kumis kucing yang berfungsi sebagai pelindung hati dari serangan toksin (Chirul, 2007), sehingga kerja hati menjadi semakin baik. Saponin dan Sinensetin yang terkandung dalam tepung daun kumis kucing berfungsi sebagai anti bakteri yaitu menghambat aktivitas bakteri jahat dalam tubuh (Abadi, 2002) menyebabkan kerja dari alat pencernaan tidak mengalami gangguan sehingga bobot non karkas menjadi meningkat.

Menurut Forrest et al. (1975) asupan nutrisi mempengaruhi bobot non karkas terhadap bobot hidup. Kandungan protein dan energi dalam ransum ayam broiler pada masing-masing perlakuan sama yaitu untuk T0 protein 19,41%, energi metabolis 3065,74 kkal/ kg, T1 protein 19,39%, energi metabolis 3061,94 kkal/ kg, T2 protein 19,38% dan energi metabolis 3061,34 kkal/ kg dan T3 kandungan proteinnya 19,38%, energi metabolis 3060,76 kkal/kg. hal ini menunjukkan bahwa masing-masing perlakuan memiliki kandunga protein dan energi metabolis yang sama menyebabkan bobot non karkas yang dihasilkan juga sama. Selain itu faktor yang mempengaruhi bobot non karkas adalah bobot potong dan bobot karkas (Jull, 1972). Semakin tinggi bobot karkas maka akan semakin rendah bobot non karkasnya dan sebaliknya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa rata-rata bobot karkas ayam broiler adalah 606,29 gram dan  bobot non karkasnya 482,91 gram.

4.5.        Pengaruh Perlakuan terhadap Persentase Karkas Ayam Broiler

Hasil anlisis data mengenai pengaruh penggunaan tepung daun kumis kucing dalam ransum sebagai feed additive terhadap persetase karkas ayam broiler menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata (P>0,05). Persentase karkas ayam broiler dapat dilihat pada Tabel 9. Analisis ragam ditunjukkan pada Lampiran 5.

Tabel  9.  Rata-Rata Persentase Karkas Ayam Broiler yang Diberi Tepung Daun Kumis Kucing dalam Ransum pada Level yang Berbeda

Ulangan Perlakuan (%)
T0 T1 T2 T3
1 57,50 56,58 55,60 58,24
2 56,85 56,72 57,41 55,94
3 58,66 53,67 56,55 57,44
4 56,86 56,98 56,22 54,19
5 57,28 57,75 54,92 38,24
Rata-rata 57,43 56,34 56,14 52,81

Keterangan : Nilai rata-rata tidak menunjukkan perbedaan nyata (P>0,05).

Rata-rata hasil penelitian mengenai persentase karkas ayam broiler untuk T0 adalah 57,50%, T1 56,34%, T2 56,14% dan T3 52,81%. Menurut Aviagen (2006) rata-rata persentase karkas ayam broiler berkisar antara 71-73% dari bobot badan. Secara umum rendahnya persentase karkas disebabkan oleh rendahnya bobot hidup. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Jull (1972) yang menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi persentase karkas adalah bobot hidup. Faktor-faktor yang mempengaruhi persentase karkas antara lain bobot badan akhir, kegemukan dan deposisi daging dan paha. Bertambahnya bobot hidup ayam pedaging akan mengakibatkan bobot karkas meningkat dan persentase karkas akan meningkat pula dan sebaliknya. Persentase karkas ditentukan oleh besarnya bagian tubuh yang terbuang seperti kepala, leher, kaki, jeroan, bulu, dan darah. (Jull, 1972)

Hasil analisis statistik menunjukkan tidak ada perbedaan nyata (P>0,05) antar perlakuan yang diberi tepung daun kumis kucing pada level yang berbeda. Rendahnya persentase karkas yang diperoleh dalam penelitian ini disebabkan rendahnya bobot badan akhir dan bobot karkas ayam broiler. Semakin rendah bobot badannya akan semakin rendah bobot karkasnya yang berakibat pada rendahnya persentase karkas. Pencapaian bobot badan akhir yang rendah disebabkan suhu lingkungan yang tinggi mengakibatkan ayam mengalami stress dan terjadi penurunan bobot badan. Hal ini sesuai dengan pendapat Lagana (2006) yang menyatakan suhu nyaman untuk ayam broiler adalah sekitar 21o-25oC dengan kelembaban 73% dan harus stabil serta tidak ekstrim, karena suhu yang ekstrim akan menghambat pertumbuhan ayam. Rata-rata suhu lingkungan penelitian ini yaitu berkisar 24,060 C sampai 29,200 C dan kelembaban mencapai 89,23%. Tidak stabilnya suhu lingkungan menyebabkan ayam broiler mengalami cekaman stress yang berakibat pada menurunnya laju pertumbuhan.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1.       Simpulan

Pemberian tepung daun kumis kucing dalam ransum pada taraf yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap bobot badan, bobot karkas, bobot non karkas dan persentase karkas pada ayam broiler jantan.

5.2.       Saran

Sebaiknya sebelum memberikan tepung daun kumis kucing dalam ransum sebagai feed additive harus diperhatikan kandungan tannin yang ada didalamnya, dikarenakan semakin tinggi kandungan tannin yang masuk kedalam tubuh akan menyebabkan pengendapan protein ransum. Perlu dilakukan lagi penelitian lebih lanjut tepung daun kumis kucing terkait dengan kandungan yang ada didalamnya.

DAFTAR PUSTAKA

Abadi, C. J., 2002. Kumis Kucing. http : //www. Chang jaya-abadi. Com. Jamu jawa04htm/. Tanggal Akses : 12 Agustus 2003.

Alfi, M. F. 2009. Pengaruh Penggunaan Tepung Roti Afkir sebagai Pengganti Jagung dalam Ransum terhadap Produksi Karkas Ayam Broiler Jantan. Universitas Diponegoro, Semarang. (Skripsi Sarjana Perternakan).

Alfiannor M.M. Tanaman Obat Kumis Kucing. http://www.etalasemuslim.com /favicon.ico. Tanggal Akes : Senin, 23 Maret 2009.

Amrullah. I. K. 2006. Nutrisi Ayam Broiler. Lembaga Satu Gunung Budi, Bogor.

Amirullah. A. Budidaya Herba Kumis Kucing (Orthosiphon spp.). http://amiere.multiply.com/journal/item/122/Budidaya_Herba_Kumis_Kucing_Orthosiphon_spp.”>. Tanggal Akses : 17 Juli 2007.

Asmanizar, K. Identifikasi pemalsuan beberapa simplisia daun kumis kucing (Orthosiphon sp) http://bebas.vlsm.org/v12/artikel/ttg_tanaman_obat/1-212.pdf. Tanggal Akses : 10 Januari 2003.

Atmomarsono, U. 2004. Upaya Menghasilkan Daging Broiler Aman dan Sehat. Pidato Pengukuhan, diucapkan pada Upacara Peresmian Penerimaan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Ternak Unggas pada Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang 6 Oktober 2004.

Anggraeni dan Triantoro. 1992. Kandungan Utama Daun Kumis Kucing Prosiding Forum Komunikasi Ilmiah Hasil Penelitian Plasma Nutfah dan Budidaya Tanaman Obat. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Industri, Bogor.

Anggorodi, R. 1985. Kemajuan Muthakir dalam Ilmu Makanan Ternak Unggas. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.

Anggorodi, R. 1990. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia, Jakarta.

Anggorodi, R. 1994.  Ilmu Makanan Ternak Umum.  Penerbit PT.  Gramedia, Jakarta.

Aviagen. Arbor Acres Plus (Efficient Meat Production Plus Excellent Breeder Performance). http://www.aviagen.com//ayam/%20/broiler//files/brosur .efficient//meat//production_/plus/exellent//breeder//performance_//html”. Tanggal Akses :24 Juli 2006.

Bakrie. Dkk. 2002. Pengaruh Pemberian Jamu Ayam terhadap Kualitas Karkas Ayam Buras potong. Balitbangda provinsi Sulawesi Selatan. Posting; 2 Maret 2009.

Bizjournals.com. Kumis Kucing (Orthosiphon Spicatus B.B.S). http://search//kumis_kucing//orthosiphonsp/files/t_link.html. Tanggal Akses : 07 Juli 2007.

Blakely, J. dan D.H. Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Cetakan IV. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta (Diterjemahkan oleh: B. Srigandono).

Branion, H. D. 1963. An abnormaly of the proventriculus and gizzard of Chick. Poultry Sci. 42: 736-743.

Charoen Pokphand. 2005. Charoen Pokphand Broiler Breeder Guide Principles. (Tidak diterbitkan).

Charoen Pokphand Indonesia. 2006. Manual Broiler Manajemen CP 707. Charoen Pokhpand Indonesia, Jakarta.

Chirul. 2007. Penelitian Fitokimia dan Tumbuhan Obat Asli Indonesia. Puslitbang Biologi. LIPI., Bogor.

Cole, H. H. and Ronning. 1974. Animal Agriculture. W. H. Freeman Company. San Fransisco.

Cos, P. N, S. Joseph, F. E. Robinson,1 D. R. Korver, and R. A. Ren.1998. Structure activity relationship and clasifications of flafonoids as inhibitors of xanthin oxidase and super oxidase scavengers. J. Nat. Prod. 61:71-76.

De Padua, I. S., N. Bunyapraphatsara dan R. H. M. J. Lemmens. 1999. Plant Resources of South-East Asa: Medical and Poisonous Plant I. Prosea Foundation, Bogor.

Departemen Pertanian. 1974. Pedoman Bercocok Tanam Kumis Kucing/ Remujung. Departemen Pertanian Direktorat Jendral Perkebunan. Lembaga Penelitian Tanaman Induustri, Bogor.

Dewan Standardisasi Nasional (DSN). 1995. Karkas Ayam Pedaging. SNI 01 – 3924 – 1995.

Dirain, C.P.O. and P. W. Waldroup. 2002. Protein and amino acid needs of broilers in warm weather: A Review. Int. Poultry Sci. 1(4): 40-46.

Ensminger. 1980. Feed Nutrition Complete. The Ensminger Publishing Company, Clovis, California.

Fadilah, R. 2004. Panduan Mengelola Peternakan Ayam Broiler Komersial. Cetakan 1. Agromedia, Jakarta.

Forrest, J.E., E.D. Aberle, H.B. Hendrick, M.D. Judge and R.A. Merkel. 1975. Prinsiples of meat science. W. H. Freeman and Co, New York.

Han Y, Baker DH. 1994. Digestible lysine requirement of male and female broiler chicks during the period three to six weeks posthatching. Poultry Sci. 73:1739-1745.

Harian Umum Sore “Sinar Harapan” No. 4056. 2002. Seledri dan Kumis Kucing SembuhkanHipertensi.www.google.comgrup/Seledri%20dan%20Kumis%20Kucing%20Sembuhkan.htm. Tanggal Akses : 8 Maret 2007.

Harmanto. N. 2007.  http://masenchipz.com/wp-content/themes/Masenchipz/ images/masenchipz/info-herbal.com. Tanggal Akses 12 februari 2009.

Haroen, U. 2003. Respon ayam broiler yang diberi tepung daun sengon (albizzia falcataria) dalam ransum terhadap pertumbuhan dan hasil karkas. J. Ilmiah Ilmu-ilmu Peternakan. 6 (1) : 34-41.

Hazha. A. Kumis Kucing (Orthosiphon Spicatus B.B.S). http://www.aagos. ristek.go.id/pertanian/kumis_kucing.pdf. Kumis Kucing. (Orthosiphon spp). Tanggal Akses :13 April 2009.

Ichwan M. W. 2003. Membuat Pakan Ayam Ras Pedaging. Penerbit PT. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Jull, M. A. 1972. Poultry Husbandry. 2nd Ed, Tata Mc Graw Hill Book Publishing Co. Ltd., New Delhi.

Kamran. Z, M. Sarwar, M. Nisa, M. A. 2008. Effect of low-protein diets having constant energy-to-protein ratio on performance and carcass characteristics of broiler chickens from one to thirty-five days of age. Poultry Sci. 2008. 87:468-474.

Kartasujana, R. dan E. Suprijatna. 2005. Manajemen Ternak Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.

Keirs. R. W, E. D. Peebles, S. A. Hubbard, and S. K. Whitmarsh. 2002. Effect of supportive Gluconeogenic substance on the early performance of broiler under adequate brooding conditions. College of Veterinary Medicine and Poultry Sci. 7 (12) : 38-40.

Khoiruddin. M. 2009. Pengaruh Protein Ransum dan Periode Indukan terhadap Bobot Badan Akhir, Bobot Karkas, Bobot Non Karkas pada Ayam Broiler. Universitas Diponegoro, Semarang. Skripsi Sarjana Peternakan. (Tidak Dipublikasikan).

Kompas Cyber Media. Manfaat Seledri dan Kumis Kucing. http://apps.kompas .com/servlet/adj?Pool=rubrik. Tanggal Akses : 15 Mei 2002.

Laganá, C., A. M. L Ribeiro, A. M. Kessler, L. R. Kratz, C. C. Pinheiro. 2006. Effects of the reduction of dietary heat increment on the performance, carcass yield, and diet digestibility of broilers submitted to heat stress. Brazilian J. Poultry Sci. 9 (1): 45-51.

Lubis, D. A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. PT. Pembangunan, Jakarta.

Mc Nally, E. H., and N. H. Spicknall, 1949. Meat yield from live, dressed, and eviscerated rhode island red males of broiler, fryer and light roaster weights. Poultry Sci. 28:562–567.

Moreng, R. E. dan J. Avens 1985. Poultry Science and Production. Reston Publishing Company Inc., A Prentice Hall Co, Virginia.

Murtidjo, B. A. 1987. Pedoman Meramu Pakan Unggas. Cetakan 1. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Murtidjo, B.A. 1991. Mengelola Ayam Buras. Kanisius, Yogyakarta.

Nachnuddin, M. A. 2008. Kumis Kucing Sang Perontok Batu Ginjal. http://Kumis%20KucingSang%20Perontok%20Batu%20Ginjal_files/s.gif&#8221;. Tanggal Akses : Senin 9 Juni 2008

Nagalakshmi, D. R. R. and VR. Reddy, 2002. Feeding to minimize heat stress. Poultry Int. 41 (7).

Nahashon, S. N., N. Adefope, A. Amenyenu, and D. Wright. 2005. Effects of dietary metabolizable energy and crude protein concentrations on growth performance and carcass characteristics of french guinea broilers. Poultry Sci. 84:337–344

National Research Council (NRC). 1994. Nutrient requirements of poultry. 9th ed. Washington, D.C.: National Academy ress.

Ndegwa, J.M., Mead, R., Norrish, P., Kimani, CW. and Wachira, A.M. 2001. The growth performance of indegenous chickens fed diets containing different level of protein during rearing. Trop. An. Health And Prod. 33: 441-448.

Nuryanto, 2007. Sexing untuk perfoma optimal. Trobos 90 maret 2007 tahun VIII, Jakarta.

Nyachoti, C. M. J. L. Atkinson, and s. Leeson’. 1996. Response of broiler chicks fed a high-tannin sorghum diet. Depcutment of Animal and Poultry Sci. Res. 5: 239-145.

Poultry Indonesia Online. 2007. Peran Temperatur bagi Pertumbuhan Unggas. http://www.blogblog.com/Peran/Temperatur/bagi/Pertumbuhan/Unggas/scribe/bg.gif.  Posting 27 februari 2009.

Prambudi, E. Animal nutrition Indonesia. http://ayam%20broiler%20/Animal% 20/nutrition%20Indonesia.bg.gif. Tanggal Akses : 02 Januari 2009.

Rasyaf, M. 1994. Makanan Ayam Broiler. Yayasan Kanisius, Yogyakarta.

Rasyaf, M. 1996. Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya, Jakarta.

Rochman, N. 1992. Peran Temperatur bagi Pertumbuhan Unggas. Majalah%20Poultry%20Indonesia%20Online%20ayam%20broiler_files/icon_mini_faq.gif. Tanggal Akses. : 27 Februari 2009.

Rofiq, M. N. 2003. Pengaruh pakan berbahan baku lokal terhadap performans vili usus halus ayam broiler. Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Budidaya Pertanian Kedeputian Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia, 5 (5) : 190-194.

Rukmana, R. 1985. Kumis Kucing. Kanisius, Jakarta.

Setiawan. F. A. 2009. Pengaruh Pemberian Tepung Daun Sambiloto Pada Ransum Terhadap Bobot Akhir, Bobot Karkas dan Persentase Karkas Ayam Broiler Jantan. Universitas Diponegoro, Semarang. Skripsi Sarjana Peternakan (Tidak Dipublikasikan).

Setiawan, I. 2009. Gumboro pada Ayam Broiler Modern. http://centralunggas.blogspot.com/2009/04/gumboro/pada/ayam/broiler//modern.html“. Tanggal Akses : 12 Juni 2009.

Siregar, A.P., M Sabrani dan S. Pramu, 1982. Teknik Beternak Ayam Pedaging di Indonesia. Margie Group, Jakarta.

Smith, E. R. and G. M. Pesti. 1998. Influence of broiler strain cross and dietary protein on the performance of broilers. Poultry Sci. 77:276–281.

Soeparno.1994. Ilmu Teknologi Daging. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Suprijatna, E., U. Atmomarsono dan R. Kartasudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sudaryani, T. dan H. Santosa. 1996. Pemeliharaan Ayam Ras Petelur di Kandang Baterai. Edisi ke-1.  PT. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sudaryani, T. dan H. Santosa. 2002. Pembibitan Ayam Ras. Penebar Swadaya, Jakarta.

Scott, M. L., M. C. Nesheem and R. J. Young. 1982. Nutrion of The Chicken. 3rd Ed., M. L. Scott and Associates. Ithaca, New York.

Tillman, A. D. S. Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo, dan S. Lebdosekejo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Tobing. V. 2002. Beternak Ayam Broiler Bebas Antibiotika Murah & Bebas Residu. Penebar Swadaya, Jakarta.

Vohm, P., F.H. Kratur, and M.A. Joslyn, 1966. The growth depressing and toxic effects of tannins to chicks. Poultry Sci. 45:135-142.

Wahju, J. 1997. Ilmu Nutrisi Unggas.  Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Widharti, S. 1987. Pengaruh Level Energi dan Level Protein Pakan Terhadap Performan, Karkas dan Lemak Abdominal pada Beberapa Tingkat umur ayam Broiler. Tesis. Fakultas Pasca Sarjana. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Wilson, B. J. 1977. Growth Curves: Their analysis and use. In: K. N. Boorman and B. J. Wilson (12). Growth and Poultry Meat Production. 1st. British Poultry Sci. Ltd., Scotland.

Wawan. S. Kumis Kucing. http://alfinjazz.blogspot.com/feeds/177358204632 9171018/comments/default. Tanggal Akses : 18 April 2009.

Yao, J., X. Tian, H. Xi, J. Han, M. Xu and X. Wu. 2006. Effect of choice feeding on performance, gastrointestinal development and feed utilization of broilers, J. Anim. Sci. 19 : 91-96.

Young, L. L. J. K. Northcutt, R. J. Buhr, C. E. Lyon, and G. O. Ware. 2001. Effects of age, sex, and duration of postmortem aging on percentage yield of parts from broiler chicken carcasses. Richard B. Russell. Poultry Sci. 80:376–379.

Yuniarti, T. 2008. Ensiklopedia Tanaman Obat Tradisional. MedPress, Yogyakarta.

Zarate, A. J., E. T. Maron, Jr., and D. L. Burham. 2003. Reducing crude protein and increasing limiting essential amino acid levels with summer-reared, slow- and fast-feathing broilers. Poultry Sci. 7 (11) : 175-177.

Zhang. X, Roland, D. A. and S. K. Roat. 1999. Effect of naturphos phytase supllementation to feed on performance and ileal digestibility of protein and amino acid of broiler. Poultry Sci. 78;1567-1572.

Zombade, S.S., C.N. Lodhi, and J.S. Ichhponad, 1979. The nutritional value of sal seed (shorea Robusth) meal for growing chicks. Br. Poultry Sci. 2Lk433-438.

Zuidhof, M. J. R., H. McGovern, B. L. Schneider, J. J. R. Feddes, F. E. Robinson, and D. R. Korver. 2004. Implications of preslaughter feeding cues for broiler behavior and carcass quality livestock development division, pork, poultry and dairy branch, alberta agriculture, food and rural development. Poultry Res. 13:335–341.

Lampiran 1.     Hasil Analisis Ragam Pengaruh Penggunaan Tepung Daun Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus) dalam Ransum terhadap Konsumsi Pakan Ayam Broiler Jantan yang diberi Tepung Daun Kumis Kucing pada Level yang Berbeda.

Perlakuan Ulangan (g) Total

(g)

Rata-rata

(g)

U1 U2 U3 U4 U5
T0 1065,00 1080,50 1084,00 1085,50 1085,00 5400,00 1080,00
T1 1059,50 1096,50 1092,00 1089,00 1100,50 5437,50 1087,50
T2 1113,50 1108,50 1101,50 1113,50 1123,00 5560,00 1112,00
T3 1102,50 1100,50 1100,00 1108,50 1088,50 5500,00 1100,00
Total (g) 21.897,50
Rata-rata 1094,88

Keterangan : Data nilai rata-rata pada tabel antar perlakuan menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05)

db total                        = (r.t) – 1 = (4×5) – 1 = 19

db perlakuan               = t – 1 = 4 – 1                         = 3

db galat                       = t (r – 1) = 4 (5 – 1)     = 16

FK                               = (ΣYij)2

t.r

= (21.897,5)2

4.5

= 23.975.025,31

JK Total = (ΣYij)2 – FK

= [(1065,0)2 + (1080,5)2 +…+ (1088,5)2 ] – 23.975.025,31

= 4.787,94

JK Perlakuan = Σ (Yt)2 – FK

= [ (5400,0)2 + (5437,5)2 + ...+ (5500,0)2 ] – 23.975.025,31

5

= 2.975,94

Lampiran 1. (Lanjutan)

JK Galat                      = JK Total – JK Perlakuan

= 4.787,94 – 2.975,94

= 1.812

KT Perlakuan = JK Perlakuan

t – 1

= 2.975,94

3

=   991,98

KT GalatJK Galat

t(r-1)

= 1.812

16

=  113,25

F hitung = KT Perlakuan

KT Galat

= 991,98

113,23

= 8,76

CV                              =

=

=  0,97 %

Lampiran 1. (Lanjutan)

Tabel sidik ragam

SK db JK KT F.Hit T.Tab
5% 1%
Perlakuan 3 2.975,94 991,98 8,76** 3,24 5,29
Galat 16 1812 113,25
Total 19

Keterangan : berbeda sangat nyata (P<0,05)

Uji Wilayah Ganda Duncan

Sd                            =

=

=   2,13

P (5%)
2 = 3,00 x 2,13 = 6,39
3 = 3,15 x 2,13 = 6,71
4 = 3,23 x 2,13 = 6,88
P 2 3 4
Rp(5%) 3,00 3,15 3,23
D 6,39 6,71 6,88

Selisih Nilai Antar Tengah Perlakuan

Perlakuan Rata-rata Selisih
T3 T0 T1 T2
T2 1112,0 - - - -
T0 1100,0 12* - - -
T1 1087,5 24,5* 12,5* - -
T3 1080,0 32* 20* 7,5* -

Keterangan :   *    : berbeda nyata (P<0,05).

ns    : non signifikan (tidak berbeda nyata).

Lampiran 2.     Hasil Analisis Ragam Pengaruh Penggunaan Tepung Daun Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus) dalam Ransum terhadap Bobot Badan Akhir Ayam Broiler Jantan yang diberi Tepung Daun Kumis Kucing pada Level yang Berbeda.

Perlakuan Ulangan (g) Total

(g)

Rata-rata

(g)

U1 U2 U3 U4 U5
T0 1045,33 1081,33 1044,67 1048,67 1035,33 5255,33 1051,07
T1 1052,00 1082,67 1076,00 1090,67 1016,00 5317,33 1063,47
T2 1134,00 1122,67 1133,33 1216,00 1080,00 5686,00 1137,20
T3 1083,33 1112,00 1025,33 1234,00 1070,67 5525,33 1105,07
Total (g) 21784,00
Rata-rata 1089,20

Keterangan : Data nilai rata-rata pada tabel antar perlakuan menunjukan tidak berbeda nyata (P<0,05)

db total                        = (r.t) – 1 = (4×5) – 1 = 19

db perlakuan               = t – 1 = 4 – 1                         = 3

db galat                       = t (r – 1) = 4 (5 – 1)     = 16

FK                               = (ΣYij)2

t.r

= (21.784)2

4.5

= 23.727.132,80

JK Total = (ΣYij)2 – FK

= [(1045,33)2 + … + (1070,67)2 ] – 23.727.132,80

= 62.656,53

JK Perlakuan = Σ (Yt)2 – FK

= [ (5255,33)2 +  ... + (5525,33)2 ] – 23.727.132,80

5

= 23.360,53

Lampiran 2. (Lanjutan)

JK Galat                      = JK Total – JK Perlakuan

= 62.656,53 – 23.360,53

= 39.296,00

KT Perlakuan = JK Perlakuan

t – 1

= 23.360,53

3

= 7.786,84

KT GalatJK Galat

t(r-1)

= 39.296,00

16

=  2.456,00

F hitung = KT Perlakuan

KT Galat

= 7786,84

2.456

= 3,17

CV                              = KT Galat x 100%

Rataan Total

= 2.456,00 x 100%

1089,20

=  4.55%

Lampiran 2. (Lanjutan)

Tabel Sidik Ragam

SK db JK KT F.Hit T.Tab
5% 1%
Perlakuan 3 23.360,53 7.786,84 3,17 3,24 5,29
Galat 16 39.296,00 2.456,00 ns
Total 19

Keterangan : Tidak berbeda nyata (P<0,05)

Lampiran 3.     Hasil Analisis Ragam Pengaruh Penggunaan Tepung Daun Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus) dalam Ransum terhadap Bobot Karkas Ayam Broiler Jantan yang diberi Tepung Daun Kumis Kucing pada Level yang Berbeda.

Perlakuan Ulangan (g) Total

(g)

Rata-rata

(g)

U1 U2 U3 U4 U5
T0 601,09 614,72 612,84 596,30 593,02 3017,98 603,60
T1 595,19 614,08 577,49 621,51 586,72 2994,99 599,00
T2 630,53 644,47 640,93 683,65 593,13 3192,71 638,54
T3 630,98 622,04 588,91 668,71 409,38 2920,02 584,00
Total (g) 12125,70
Rata-rata 606,29

Keterangan : Data nilai rata-rata pada tabel antar perlakuan menunjukan tidak berbeda nyata (P<0,05)

db total                        = (r.t) – 1 = (4×5) – 1  = 19

db perlakuan               = t – 1 = 4 – 1             = 3

db galat                       = t (r – 1) = 4 (5 – 1)     = 16

FK                               = (ΣYij)2

t.r

= (12125,70)2

4.5

= 7.351.636,08

JK Total = (ΣYij)2 – FK

= [(601,09)2 + … + (409,38)2 ] – 7.351.636,08

= 55.279,01

JK Perlakuan = Σ (Yt)2 – FK

= [ (3017,98)2 + ... + (2920,02)2 ] – 7.351.636,08

5

= 7.986,64

Lampiran 3. (Lanjutan)

JK Galat                      = JK Total – JK Perlakuan

= 55.279,01 – 7.986,64

= 47.292,37

KT Perlakuan = JK Perlakuan

t – 1

= 7.986,64

3

= 2.662,21

KT GalatJK Galat

t(r-1)

= 47.292,37

16

= 2.955,77

F hitung = KT Perlakuan

KT Galat

= 2.662,21

2.955,77

= 0,90 

CV                              = KT Galat x 100%

Rataan total

= 2.955,77 x 100%

606,29

=  8,97%

Lampiran 3. (Lanjutan)

Tabel Sidik Ragam

SK db JK KT F.Hit T.Tab
5% 1%
Perlakuan 3 7.986,64 2.662,21 0,90 3,24 5,29
Galat 16 47.292,37 2.955,77 ns
Total 19

Keterangan : Tidak berbeda nyata (P<0,05)

Lampiran 4. Hasil Analisis Ragam Pengaruh Penggunaan Tepung Daun Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus) dalam Ransum terhadap Bobot Non Karkas Ayam Broiler Jantan yang diberi Tepung Daun Kumis Kucing pada Level yang Berbeda.

Perlakuan Ulangan (g) Total

(g)

Rata-rata

(g)

U1 U2 U3 U4 U5
T0 444,25 466,61 431,82 452,36 442,31 2237,35 447,47
T1 456,81 468,59 498,51 469,15 429,28 2322,34 464,47
T2 503,47 478,19 492,40 532,35 486,87 2493,29 498,66
T3 452,35 489,96 436,42 565,29 661,29 2605,31 521,06
Total(g) 9658,30
Rata-rata 482,91

Keterangan : Data nilai rata-rata pada tabel antar perlakuan menunjukan tidak berbeda nyata (P<0,05)

db total                        = (r.t) – 1 = (4×5) – 1  = 19

db perlakuan               = t – 1 = 4 – 1             = 3

db galat                       = t (r – 1) = 4 (5 – 1)     = 16

FK                               = (ΣYij)2

t.r

= (9658,30)2

4.5

= 4.664.133,12

JK Total = (ΣYij)2 – FK

= [(444,25)2 + … + (661,29)2 ] – 4.664.133,12

= 55.892,73

JK Perlakuan = Σ (Yt)2 – FK

= [(2237,35)2 + ... + (2605,31)2] – 4.664.133,12

5

= 16.497,90

Lampiran 4. (Lanjutan)

JK Galat                      = JK Total – JK Perlakuan

= 55.892,73 – 16.497,90

= 39.394,83

KT Perlakuan = JK Perlakuan

t – 1

= 16.497,90

3

= 5.499,30

KT GalatJK Galat

t(r-1)

= 55.892,73

16

= 2.462,18

F hitung = KT Perlakuan

KT Galat

= 5.499,30

2.462,18

= 2,23

CV                              = KT Galat x 100%

Rataan total

= 2.462,18 x 100%

482,91

=  10,27%

Lampiran 4. (Lanjutan)

Tabel Sidik Ragam

SK db JK KT F.Hit T.Tab
5% 1%
Perlakuan 3 16.497,90 5.499,30 2,23 3,24 5,29
Galat 16 39.394,83 2.462,18 ns
Total 19

Keterangan : Tidak berbeda nyata (P<0,05)

Lampiran 5.  Hasil Analisis Ragam Pengaruh Penggunaan Tepung Daun Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus) dalam Ransum terhadap Persentase Karkas Ayam Broiler Jantan yang diberi Tepung Daun Kumis Kucing pada Level yang Berbeda.

Perlakuan Persen Karkas (%) Total

(%)

Rata-rata

(%)

U1 U2 U3 U4 U5
T0 57.50 56.85 58.66 56.86 57.28 287.16 57.43
T1 56.58 56.72 53.67 56.98 57.75 281.70 56.34
T2 55.60 57.41 56.55 56.22 54.92 280.70 56.14
T3 58.24 55.94 57.44 54.19 38.24 264.05 52.81
Total(%) 1113.60
Rata-rata (%) 55.68

Keterangan : Data nilai rata-rata pada tabel antar perlakuan menunjukan tidak berbeda nyata (P<0,05)

db total                        = (r.t) – 1 = (4×5) – 1  = 19

db perlakuan               = t – 1 = 4 – 1             = 3

db galat                       = t (r – 1) = 4 (5 – 1)     = 16

FK                               = (ΣYij)2

t.r

= (1113.60)2

4.5

= 62.005,43

JK Total = (ΣYij)2 – FK

= [(57.50)2 + … + (38.24)2 ] – 62.005,43

= 350,31

JK Perlakuan = Σ (Yt)2 – FK

= [(287.16)2 + ... + (264.05)2] – 62.005,43

5

= 59,78

Lampiran 5. (Lanjutan)

JK Galat                      = JK Total – JK Perlakuan

= 350,31– 59,78

= 290,54

KT Perlakuan = JK Perlakuan

t – 1

= 59,78

3

= 19,93

KT GalatJK Galat

t(r-1)

= 350,31

16

= 18,16

F hitung = KT Perlakuan

KT Galat

= 19,93

18,16

= 1,10

CV                              = KT Galat x 100%

Rataan total

= 18,16 x 100%

55.68

=  7,65%

Lampiran 5. (Lanjutan)

Tabel Sidik Ragam

SK db JK KT F.Hit T.Tab
5% 1%
Perlakuan 3 59,78 19,93 1,10 3,24 5,29
Galat 16 290,54 18,16 ns
Total 19

Keterangan : Tidak berbeda nyata (P<0,05)

Lampiran 6.  Susunan Ransum dan Kandungan Nutrisi Ransum yang Diberi Tepung Daun Kumis Kucing dalam Level yang Berbeda

Perlakuan 1. Susunan Ransum Tanpa Penambahan Tepung Daun kumis kucing

Bahan Pakan EM (kkal/kg) Pk

(%)

Jumlah

(%)

Trial EM (kkal/kg) Trial Pk

(%)

Jagung Kuning 3418 8,95 45,38 1551,08 4,06
Bekatul 2421 8,67 29,26 708,38 2,53
B. kedelai 3391 48,88 12,98 440,15 6,34
PMM 2872 52,80 6,68 191,84 3,52
MBM 3112 52,50 5,60 174,27 2,94
Top mix 0,10 0 0
Tep. kumis kucing 0 0 0
Jumlah 100 3065,72 19,39

Perlakuan 2. Susunan Ransum Dengan Penambahan Tepung Daun kumis kucing 0,12%

Bahan Pakan EM (kkal/kg) Pk

(%)

Jumlah

(%)

Trial EM (kkal/kg) Trial Pk

(%)

Jagung Kuning 3418 8,95 45,30 1548,35 4,05
Bekatul 2421 8,67 29,23 707,65 2,53
B. kedelai 3391 48,88 12,97 439,81 6,33
PMM 2872 52,80 6,68 191,84 3,52
MBM 3112 52,50 5,60 174,27 2,94
Top mix 0,10 0 0
Tep. kumis kucing 0,12 0 0
Jumlah 100 3061,92 19,37

Lampiran 6. (Lanjutan)

Perlakuan 3. Susunan Ransum Ayam broiler Dengan Penambahan Tepung Daun kumis kucing 0,14%

Bahan Pakan EM (kkal/kg) Pk

(%)

Jumlah

(%)

Trial EM (kkal/kg) Trial Pk

(%)

Jagung Kuning 3418 8,95 45,30 1548,35 4,05
Bekatul 2421 8,67 29,23 707,65 2,53
B. kedelai 3391 48,88 12,97 439,81 6,33
PMM 2872 52,80 6,67 191,56 3,52
MBM 3112 52,50 5,59 173,96 2,93
Top mix 0,10 0 0
Tep. kumis kucing 0,14 0 0
Jumlah 100 3061,33 19,36

Perlakuan 4. Susunan Ransum Ayam Broiler dengan Penambahan Tepung Daun kumis kucing 0,16%

Bahan Pakan EM (kkal/kg) Pk

(%)

Jumlah

(%)

Trial EM (kkal/kg) Trial Pk

(%)

Jagung Kuning 3418 8,95 45,30 1548,35 4,05
Bekatul 2421 8,67 29,22 707,41 2,53
B. kedelai 3391 48,88 12,96 439,47 6,33
PMM 2872 52,80 6,67 191,56 3,52
MBM 3112 52,50 5,59 173,96 2,93
Top mix 0,10 0 0
Tep. kumis kucing 0,16 0 0
Jumlah 100 3060,75 19,36

Lampiran  7. Data Fisiologis Lingkungan Penelitian

Data Fisiologis Lingkungan Kandang (Mikro)

Tanggal Umur

(hari)

Waktu
06.00 12.00 18.00 00.00
0C RH

(%)

0C RH

(%)

0C RH

(%)

0C RH

(%)

13/ 04/ 2008 15 25 91 30 84 26 92 25 90
14/ 04/ 2008 16 25 91 29 84 27 92 24 90
15/ 04/ 2008 17 25 91 29 84 27 92 25 91
16/ 04/ 2008 18 25 90 29 84 27 92 24 91
17/ 04/ 2008 19 26 90 28 84 26 92 24 91
18/ 04/ 2008 20 26 90 29 84 27 92 24 91
19/ 04/ 2008 21 27 90 30 84 26 92 25 90
20/ 04/ 2008 22 26 90 31 84 27 92 25 90
21/ 04/ 2008 23 26 90 29 84 27 92 25 90
22/ 04/ 2008 24 25 90 27 84 26 92 23 91
23/ 04/ 2008 25 25 90 29 84 26 92 23 91
25/ 04/ 2008 26 25 90 29 84 26 92 24 90
26/ 04/ 2008 27 24 91 30 84 27 92 23 90
27/ 04/ 2008 28 24 91 29 84 26 92 24 91
28/ 04/ 2008 29 24 91 30 84 27 92 23 91
Rata-rata 25,20 90,40 29,20 84,00 26,53 92,00 24,06 90,53

Lampiran  7. (Lanjutan)

Data Fisiologis Lingkungan Luar Kandang (Makro)

Tanggal Umur

(hari)

Waktu
06.00 12.00 18.00 00.00
0C RH

(%)

0C RH

(%)

0C RH

(%)

0C RH

(%)

13/ 04/ 2008 15 25 90 31 76 28 91 25 90
14/ 04/ 2008 16 25 90 30 76 29 91 24 90
15/ 04/ 2008 17 24 91 30 76 29 91 24 91
16/ 04/ 2008 18 25 90 31 76 29 91 24 91
17/ 04/ 2008 19 24 91 29 83 28 91 23 91
18/ 04/ 2008 20 25 91 30 76 29 91 24 91
19/ 04/ 2008 21 24 91 30 76 28 91 24 90
20/ 04/ 2008 22 25 90 33 76 29 91 25 90
21/ 04/ 2008 23 24 91 29 83 29 91 25 90
22/ 04/ 2008 24 24 91 28 83 27 91 23 91
23/ 04/ 2008 25 25 90 30 76 28 91 23 91
25/ 04/ 2008 26 26 90 31 76 28 91 24 90
26/ 04/ 2008 27 25 90 33 76 28 91 24 90
27/ 04/ 2008 28 25 90 31 76 28 91 23 91
28/ 04/ 2008 29 25 90 31 76 29 91 23 91
Rata-rata 24,73 90,40 30,46 77,40 23,86 91,00 24,06 90,53

Lampiran 8. Hasil Analisis Bahan Ransum Penelitian

Lampiran 9. Hasil Analisis Meat Bone Meal

Lampiran 10. Hasil Analisis Proksimat Bungkil Kedelai dan PMM

Lampiran 11. Data Bobot Badan DOC Jantan

Data bobot Badan DOC Ayam Broiler

No. BB (gram)

No. BB (gram) No. BB (gram) No. BB (gram)
1. 38,52 31. 40,12 61. 44,52 91. 41,55
2. 43,28 32. 42,47 62. 41,80 92. 42,00
3. 41,24 33. 43,60 63. 47,45 93. 44,62
4. 40,61 34. 41,90 64. 37,00 94. 42,52
5. 41,66 35. 43,73 65. 43,30 95. 39,61
6. 41,37 36. 39,90 66. 42,13 96. 42,61
7. 42,63 37. 42,55 67. 42,50 97. 40,15
8. 41,13 38 46,82 68. 41,09 98. 45,40
9. 44,41 39. 41,01 69. 46,76 99. 43,20
10. 40,92 40. 42,58 70. 47,90 100. 41,85
11. 40,55 41. 43,86 71. 37,60 101. 41,51
12. 36,82 42. 41,37 72. 44,38 102. 42,94
13. 42,58 43. 41,16 73. 39,60 103. 42,30
14. 46,80 44. 42,44 74. 39,40 104. 38,75
15. 43,60 45. 38,47 75. 47,41 105. 34,32
16. 49,64 46. 45,70 76. 40,93 106. 45,38
17. 40,90 47. 45,32 77. 44,00 107. 34,53
18. 42,66 48. 38,01 78. 39,71 108. 43,30
19. 40,38 49. 41,20 79. 38,20 109. 48,30
20. 40,76 50. 38,85 80. 40,42 110. 45,80
21. 42,87 51. 41,70 81. 44,02 111. 38,80
22. 38,81 52. 43,68 82. 36,70 112. 42,40
23. 38,98 53. 38,60 83. 45,57 113. 36,38
24. 47,77 54. 44,70 84. 45,34 114. 36,14
25. 41,30 55. 37,30 85. 43,38 115. 41,25
26. 39,87 56. 43,65 86. 47,39 116. 40,10
27. 44,55 57. 40,83 87. 41,24 117. 38,18
28. 39,15 58. 45,60 8. 47,63 118. 43,70
29. 46,87 59. 42,68 89. 43,28 119. 36,22
30 42,15 60. 41,80 90. 38,50 120. 37,42

Lampiran 11. (Lanjutan)

DATA DOC

  1. Tanggal tetas               : 28 Maret 2008
  2. Galur                           : CP 707
  3. Jenis                            : DOC PEDAGING
  4. Jumlah                         : 100 ekor + 2 % Resiko Transportasi
  5. Berat DOC                  : 37 gram
  6. Kode Produksi                        : 2203014216


 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.